Sejarah Islam di Timur Tengah

Archive for April, 2007

Salahuddin Ayyubi

Posted by sejarahasyik pada April 30, 2007

http://www.wikipedia.com

Shalahuddin Al-Ayyubi berasal dari bangsa Kurdi[1] . Ayahnya Najmuddin Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuh hijrah (migrasi) meninggalkan kampung halamannya dekat Danau Fan dan pindah ke daerah Tikrit (Irak). Shalahuddin lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M, ketika ayahnya menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja Suriah Nuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169, Shalahudin diangkat menjadi seorang Vizier (konselor).

Disana, dia mewarisi peranan sulit mempertahankan Mesir melawan penyerbuan dari Kerajaan Jerusalem latin, dibawah pimpinan Amalric I. Posisi ia awalnya menegangkan. Tidak ada seorangpun menyangka dia bisa bertahan lama di Mesir dimana disana sedang terjadi banyak perubahan pemeritahan di beberapa tahun belakangan oleh karena silsilah panjang anak Khalifah mendapat perlawanan dari Vizier. Sebagai pemimpin dari prajurit asing Syria, dia juga tidak memiliki kontrol dari Prajurit Shi’ite Mesir, yang dipimpin oleh seseorang yang tidak diketahui atau seorang Khalifah yang lemah bernama Al-Adid. Ketika sang Khalifah meninggal bulan September 1171, Saladin mendapat pengumuman Imam dengan nama Al-Mustadi, kaum Sunni, dan yang paling penting, Abbasid Khalifah di Baghdad, ketika upacara sebelum Shalat Jumat, dan kekuatan kewenangan dengan mudah memecat garis keturunan lama. Sekarang Saladin menguasai Mesir, tapi secara resmi bertindak sebagai wakil dari Nur ad-Din, yang sesuai dengan adat kebiasaan mengenal Khalifah dari Abbasid. Saladin merevitalisasi perekonomian Mesir, mengorganisir ulang kekuatan militer, dan mengikuti nasihat ayahnya, menghindari konflik apapun dengan Nur ad-Din, tuannya yang resmi, sesudah dia menjadi pemimpin asli Mesir. Dia menunggu sampai kematian Nur ad-Din sebelum memulai beberapa tindakan militer yang serius: Pertama melawan wilayah Muslim yang lebih kecil, lalu mengarahkan mereka melawan para prajurit salib.

Dengan kematian Nur ad-Din (1174) dia menerima gelar Sultan di Mesir. Disana dia memproklamasikan kemerdekaan dari kaum Seljuk, dan dia terbukti sebagai penemu dari dinasti Ayyubid dan mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir. Dia memperlebar wilayah dia ke sebelah barat di maghreb, dan ketika paman dia pergi ke Nil untuk mendamaikan beberapa pemberontakan dari bekas pendukung Fatimid, dia lalu melanjutkan ke Laut Merah untuk menaklukan Yaman. Dia juga disebut Waliullah yang artinya teman Allah bagi kaum muslim Sunni.

Dari usia belasan tahun Shalahuddin selalu bersama ayahnya di medan pertempuran melawan Tentara Perang Salib atau menumpas para pemberontakan terhadap pemimpinnya Sultan Nuruddin Mahmud. Ketika Nuruddin berhasil merebut kota Damaskus tahun pada tahun 549 H/1154 M maka keduanya ayah dan anak telah menunjukkan loyalitas yang tinggi kepada pemimpinnya.

Dalam tiga pertempuran di Mesir bersama-sama pamannya Asaduddin melawan Tentara Perang Salib dan berhasil mengusirnya dari Mesir pada tahun 559-564 H/ 1164-1168 M. Sejak itu Asaduddin, pamannya diangkat menjadi Perdana Menteri Khilafah Fathimiyah. Setelah pamnnya meninggal, jabatan Perdana Menteri dipercayakan Khalifah kepada Shalahuddin Al-Ayyubi.

Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil mematahkan serangan Tentara Salib dan pasukan Romawi Bizantium yang melancarkan Perang Salib kedua terhadap Mesir. Sultan Nuruddin memerintahkan Shalahuddin mengambil kekuasaan dari tangan Khilafah Fathimiyah dan mengembalikan kepada Khilafah Abbasiyah di Baghdad mulai tahun 567 H/1171 M (September). Setelah Khalifah Al-’Adid, khalifah Fathimiyah terakhir meninggal maka kekuasaan sepenuhnya di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi.
Sultan Nuruddin meninggal tahun 659 H/1174 M, Damaskus diserahkan kepada puteranya yang masih kecil Sultan Salih Ismail didampingi seorang wali. Dibawah seorang wali terjadi perebutan kekuasaan diantara putera-putera Nuruddin dan wilayah kekuasaan Nurruddin menjadi terpecah-pecah. Shalahuddin Al-Ayyubi pergi ke Damaskus untuk membereskan keadaan, tetapi ia mendapat perlawanan dari pengikut Nuruddin yang tidak menginginkan persatuan. Akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi melawannya dan menyatakan diri sebagai raja untuk wilayah Mesir dan Syam pada tahun 571 H/1176 M dan berhasil memperluas wilayahnya hingga Mousul, Irak bagian utara.

Naik ke kekuasaan

Di kemudian hari Saladin menjadi wazir pada 1169, dan menerima tugas sulit mempertahankan Mesir dari serangan Raja Latin Yerusalem, khususnya Amalric I. Kedudukannya cukup sulit pada awalnya, sedikit orang yang beranggapan ia akan berada cukup lama di Mesir mengingat sebelumnya telah banyak terjadi pergantian pergantian kekuasaan dalam beberapa tahun terakhir disebabkan bentrok yang terjadi antar anak-anak Kalifah untuk posisi wazir. Sebagai pemimpin dari pasukan asing Suriah, dia juga tidak memiliki kekuasaan atas pasukan Syi’ah Mesir yang masih berada di bawah Khalifah yang lemah, Al-Adid.

Posted in Sejarah | Leave a Comment »

Al-Aqsha

Posted by sejarahasyik pada April 30, 2007

http://www.infopalestina.com

Tempat-Tempat Bersejarah di Al-Aqsha

Al-Haram al-Qudsi adalah tempat berdirinya Masjid Al-Aqsha al-Mubarak. Tempat ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan bersejarah Islam yang didirikan oleh raja atau sultan pada zaman keemasan Islam. Dengan menghancurkan Al-Haram al-Quds berarti menghancurkan siimbol dan identitas keisalaman Al-Quds. Berikut ini tempat-tempat bersejarah yang terdapat di Al-Haram al-Quds selain yang dikenal oleh kebanyakan kaum muslimin dunia.

Tempat-tempat bersejarah di Al-Aqsha

1. Menara Babul Asbath.

Bangunan ini terletak di sebelah utara al-Haram antara gerbang Hithah dan Gerbang Al-Ashbath. Bangunan ini didirikan pada zaman Sultan Al-Muluk Al-Asyraf Sya�ban (764-778 H/1363-1376 M) dan diabngun atas perintah Gubernur Saifuddin Qatlubigo tahun 769 H/1367 M. hal ini bisa diketahui dari prasasti yang ada di sana. Perlu disebutkan di sini bahwa menara tersebut terdiri dari delapan sudut, bukan empat sudut seperti biasanya. Bangunan ini mengalami perbaikan pada zaman kekhalifahan utsmaniyah dan dibentuk menyerupai selinder (bulat).

2. Qubbah Al-Silsilah

Bangunan ini terletak beberapa meter di sebelah timur Qubbah Sakhra. Qubbah Al-Silsilah ini dibangun oleh Khalifah Bani Umayah, Abdul Muluk bin Marwan (65-68 H/507-685 M) sementara Qubbah Sakhra dibangun antara tahun 66-72 H oleh Kholifah yang sama.

Qubbah ini berdiri di atas bangunan segi enam yang ditopang oleh enam tiang. Bangunan ini dikelilingi oleh serambi yang terdiri dari 11 segi dan berada di atas 11 tiang yang kokoh. Sebagaimana mihrab yang berada di sebelah selatanya.
Dinamakan Qubbah Silsilah yang beraarti Qubbah rangkaian, karena adanya rangkaian cahaya yang tergantung di dalamnya serta bisa dilihat dari luar. Rangkaian cahaya ini tergantung antara langit dan bumi.

Bangunan ini pernah direnovasi sebanyak dua kali, yaitu pada masa kerajaan Mamlukiyah dan kekhalifahan Ustmaniyah. tepanya pada masa Sulatn Al-Malik Al-Dzahir Bebres (658-676 H) dan Sultan Sulaiman Al-Qanuni (926-974).

3. Menara Gerbang Silsilah

Bangunan ini terletak di sebelah barat al-Haram al-Syarif, antara gerbang Silsilah dan Sekolah Al-Asyrafiyah. Bangunan ini didirkan pada zaman Sultan Al-Nashir Muhammad bin Qalawan tepatnya pada tahun ketiga dari kesultanannya (741-809 H/ 1309-1340 M) berdasarkan perintah dari wakilnya, Al-Amir Saifuddin Tunkaz Al-Nashir ke enam, tahun 730 H/1329 M. sesuai dengan prasasti yang terdapat di sebelah timur dari bangunan menara tersebut.

Tulisan prasastinya berbunyi : Bismillahirrahmaniraahim, menara ini dibangun atas perintah dari Sultan Al-Malik Al-Nashir pada tahun 730 H.

4. Menara Al-Maghoribah

Bangunan ini terletak di bagian barat daya dari al-Haram Al-Qudsi. Menara ini terkenal dengan kemegahanya yang dibangun oleh Hakim Syarifuddin Abdurrahman bin Al-Shahib salah seorang menteri dari sultan Fakhruddin Al-Kholili (4) Bangunan ini didirikan pada masa keemasanya Syarifuddin yang menjadi penjaga Al-Haramain al-Syarifain (di AL-Quds dan Hebron) tahun 677 H./7812 M. pada masa Sultan Al-Malik al-said Nashiruddin Barkat Khan (676-678 H)

5. Qubbah Mi’raj

Bangunan ini terletak di sebelah barat Qubbah Al-Shakhra agak miring ke belah utara. Pendirian bangunan ini terjadi pada masa keislaman, yaitu pada masa kesultanan Al-Ayubiyah tepatnya pada masa Sulatan Al-Malik Al-Adil Saifuddin Abi Bakrah (596-615 H/1200-1218 M) atas perintah dari Amir Al-Zanjili wali kota Al-Quds, sebagaimana tertulis pada prasasti di pintu masuk utama.

6. Qubbah Nahwiyah

Qubbah ini terletak di pojok Barat Daya Qubbah Shakhra, dibangun pada zaman Al-Ayubiyah tepatnya pada masa Sultan Malik Isa tahun 604 H/1207 M. Dulu bangunan ini digunakan sebagai tempat belajar Bahasa Arab, karena Sultan Malik Isa terkenal dengan kecintaanya pada bahasa Arab. Sebagaimana terdapat pada prsasti yang terdapat di dalam Qubbah tersebut.

Qubbah ini terdiri dari dua ruangan dan satu aula yang memanjang, yang bisa dimasuki dari pintu utama. Ruangan ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dan pepohonan. Demikian juga dengan tiang-tiangnya yang kokoh yang dihiasu dengan berbagai ukiran yang menunjukan bahwa bangunan ini didirikan pada dua zaman Sahlibiyah dan Ayubiyah. (pic/asy)

Posted in Sejarah | Leave a Comment »

Air Zam-Zam

Posted by sejarahasyik pada April 30, 2007

http://www.wikipedia.com

Menurut kepercayaan umat islam saat itu, telaga zamzam dirawat dan dibina oleh Siti Hajar. Siti Hajar sendiri merupakan istri kedua dari Nabi Ibrahim a.s dan merupakan ibu dari Nabi Ismail. Ceritanya adalah pada saat itu, Nabi Ismail merasa sangat haus tetapi di gurun tersebut sedang terjadi kekeringan. Lalu, demi untuk mendapatkan air untuk anaknya, Siti Hajar berlari-lari 7 kali dari Bukit Safa dan Bukit Marwa. Allah memang maha penyanang, maka ia memerintahkan Malaikat Jibril untuk mengeluarkan air suci dari tengah-tengah padang pasir tersebut. Tempat mata air itu keluar adalah tempat dimana Nabi Ismail menghentak-hentakkan kakinya sambil menangis. Kemudian, Siti Hajar mengepung air itu dengan batu-batu. Karena itulah disebut air zamzam atau yang artinya adalah kepung air.

Abdul Muthalib yang merupakan nama kakek Nabi Muhammad s.a.w telah menjaga keselamatan satu-satunya sumber air di kota Mekah zaman pra Islam. Perkataan zamzam dipercayai berasal daripada ungkapan zomk-zomk bermakna berhenti mengalir – yang diluahkan oleh Siti Hajar dalam percubaannya menakung air yang berhamburan keluar.

Maklumat fizikal
Kedalaman sumber air zamzam adalah 30 meter tetapi kedalaman airnya haya 3,32 meter. Air keluar pada kelajuan 8000 liter/detik selama 24 jam.

Air zamzam saat ini

Seperti yang telah kita ketahui, disaat ibadah haji dan umrah, para jemaah harus menjalankan suatu ibadah yang disebut Sai. Hal itu meniru larian Siti Hajar dari Bukit Sofa ke Bukit Marwa sebanybak 7 kali.

Air zamzam sendiri mengandung mineral seperti kalsium, magnesium dan fluoride.

Air zamzam tidak diperkenankan untuk dieksport. Maka dari itu, jemaah haji dan umroh dapat mengisi botol mereka dengan air zamzam. Setiap jemaah berhak membawa 5 galon air zamzam. Tempat pengambilan air zamzam berdekatan dengan Masjidil Haram. Dan terdiri menjadi 2 bagian.

Posted in Sejarah | Leave a Comment »

Ka’bah

Posted by sejarahasyik pada April 30, 2007

http://www.wikipedia.com

Menurut kepercayaan umat muslim, pembinaan Kabah pertama kali dilakukan oleh Nabi Adam as. Allah SWT menuliskan di Al-Quran bahwa kabah adalah rumah pertama manusia untuk menyembah Allah SWT. Kemudian, setelah nabi Adam, Kabah dibina kembali oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Kabah sendiri berbentuk seperti kubus dengan dinding timur selebar 48 kaki dan 6 inci, dinding hatim 33 kaki, dinding antara Hajar Aswad dan sudut Yamani adalah 30 kaki dan dinding barat selebar 46,5 kaki. Setelah itu, Kabah sempat dibina oleh Kaum Quraisy.

Saat itu sempat terjadi bajir kilat yang menyebabkan banyak kerusakan di Kabah seperti dindingnya retak. Kemudian dibagilah tugas kepada para kaum Quraisy. Rasulullahpun ikut membantu. Setelah dinding-dinding dibangun kembali, akhirnya hajar aswad diletakkan kembali ke tempatnya yaitu di dinding timur Kabah.

Posted in Sejarah | Leave a Comment »

Sejarah Madinah

Posted by sejarahasyik pada April 30, 2007

http://www.wikipedia.com

Menurut kepercayaan ahli sejarah sebelum Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Yathrib, kota ini merupakan tempat yang belum maju seperti Makkah, dalam segi pembinaan, masyarakat dan sebagainya. Yathrib diasaskan oleh Yathrib bin Mahlaeil. Kawasan ini subur dengan tanaman seperti buah-buahan, sayur mayur, dan kaya akan air. Hal ini membuat Yathrib maju sedikit demi sedikit, Yathrib menjadi dikunjungi oleh banyak penduduk. Pada tahun 455 SM, warga Arab mulai mendatangi Yathrib dan menetap di sana.

Menurut sumber-sumber sejarah, dahulu Yathrib (sebelum hijrah) hanya sebuah tempat dimana terdapat sebuah kumpulan komuniti masyarakat kecil khususnya selepas kedatangan masyarakat Yahudi.

Penghijrahan dari Makkah ke Madinah

Pada hari Senin 20 September 622 M, Nabi Muhammad s.a.w. melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Orientalis barat mengganggap tindakan ini, merupakan tindakan melarikan diri. Akan tetapi alasan nabi yang sebenarnya adalah karena jemputan penduduk Madinah sendiri.

Menurut sumber autentik seperti hadits, Madinah mempunyai dua buah suku yang berbeda (Aus dan Khasraj) di samping tiga buah suku Yahudi (Banu Qainuka, Banu Nadhir dan Banu Qurayza). Suku Aus dan Khazraj menguasai kota Yathrib tetapi sering berperang satu sama lain. Menurut ahli sejarah, kedua pihak ini mengetahui adanya kewujudan rasul di Makkah. Lalu kedua pihak ini akhirnya membuat keputusan untuk menemui rasul ini, dengan tujuan untuk menyelesaikan konflik yang sering menerpa ke dua pihak ini. Nabi Muhammad s.a.w dan pengikutnya pun setuju untuk berhijrah ke Yathrib, yang kemudian dikenal menjadi kota Madinah Al-Munawwarah. Sesampai Nabi sampai di Madinah, ia membuat suatu lembaga untuk menyatukan kedua pihak di sana. Lembaga ini disetujui oleh semua penduduk di Madinah dan di beri julukan Piagam Madinah.

Perang Makkah-Madinah

Setelah masyarakat Islam menetap di Madinah, kaum Quraish Makkah mulai merasa terancam dengan kekusaan baru ini. Pada tahun 627 M, tentara Quraish di bawah pimpinan Abu Sufyan menyerang Madinah. Pasukan Abu Sufyan bekerjasama dengan Pasukan Banu Qurayza yang berasal dari Madinah. Menurut Sahih Al-Bukhari pertolongan Banu Qurayza merupakan suatu pelanggaran terhadap perjanjian Piagam Madinah.

Oleh karena itu seluruh lelaki kaum Bani Qurayza dihukum mati setelah pengadilan dijalankan oleh Saad ibni Muadh.

Pada tahun ke10 Hijrah, Madinah menjadi sebuah tempat di mana Umat Islam diserang atau menyerang musuh.

Sehingga Baginda berjaya dan membuka kota Makkah tanpa menumpahkan setetes darahpun. Walaupun selepas berdirinya Khufala Al-Rasyidin, Madinah terus menjadi ibu kota kerajaan Islam.

Madinah selepas kewafatan Rasulullah s.a.w.

Kedudukan Madinah, Makkah, dan bandar-bandar lain di Arab Saudi.

Di bawah pemerintahan Khufala Al-Rasyidin, kerajaan islam makin berkembang.

Tentara Islam makin berjaya dengan menaklukan kota-kota penting seperti Damsyik, Baitulmuqqadis, Iskandariyah, dan Baghdad. Setelah kematian khalifah ke-4 Khufala Al-Rasyidin yaitu Saidina Ali Bin Thalib, Muawwiyah yang saat itu gubernur Damsyik mengubah pusat pemerintahan kerajaan Islam ke Damsyik. Beliau juga menggagaskan Kerajaan Ummaiyah . Kota Madinah kemudian hanya menjadi pusat keagamaan saja.

Pada tahun 1944, Madinah yang berada di kekuasaan Uthamaniyyah jatuh ke tangan Ibnu Saud yang kemudian menjadi Raja Arab Saudi.

Posted in Sejarah | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.